SINJAI, Karebanasulsel.id- Semangat syiar Islam menggema di Masjid Jamaatul Mu’minin, Dusun Saukang, Desa Saotanre, Kecamatan Sinjai Tengah, Kabupaten Sinjai, Rabu malam (25/02/2026). Usai shalat Isya berjamaah, sebelum pelaksanaan tarawih, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Sinjai (UMSI) tampil membawakan ceramah singkat bertema “Keistimewaan Ramadhan dan Malam Kedelapan Tarawih” pada pukul 20.30 WITA.
Adalah Rasmi (RASMI), mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial, Ilmu Politik dan Humaniora, Jurusan Administrasi Publik, yang juga merupakan warga asli Desa Saotanre, Dusun Saukang. Kehadirannya sebagai penceramah muda menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat setempat.
Dalam tausiyahnya, Rasmi menegaskan bahwa bulan suci Ramadhan merupakan bulan penuh rahmat, ampunan dan keberkahan yang tidak boleh disia-siakan. Ia mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.
“Ramadhan bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga hati, lisan dan perbuatan. Setiap malam memiliki keutamaan, termasuk malam kedelapan tarawih yang menjadi ujian konsistensi kita dalam beribadah,” tegasnya di hadapan jamaah.
Ia menjelaskan, memasuki malam kedelapan Ramadhan, semangat ibadah harus tetap dijaga. Konsistensi dalam shalat tarawih, membaca Al-Qur’an dan bersedekah menjadi bagian dari upaya meraih pahala yang berlipat ganda.

Tak hanya itu, Rasmi juga menyampaikan pesan motivasi khusus kepada adik-adik pelajar agar berani tampil menyampaikan dakwah. Menurutnya, generasi muda memiliki tanggung jawab moral untuk meneruskan syiar Islam di tengah masyarakat.
“Jangan takut berbicara di depan umum. Dakwah bisa dimulai dari hal kecil, dari sekolah, dari teman sebaya. Sampaikan kebaikan walau satu ayat. Islam butuh generasi muda yang berani dan percaya diri,” pesannya penuh semangat.
Ceramah singkat tersebut disambut antusias jamaah. Kehadiran mahasiswa sebagai penceramah dinilai menjadi warna baru dalam kegiatan Ramadhan di Desa Saotanre, sekaligus memperlihatkan peran aktif generasi muda dalam membangun spiritualitas masyarakat.
Usai ceramah, jamaah kemudian melanjutkan shalat tarawih dengan suasana khusyuk dan penuh kekhidmatan. Momentum ini menjadi bukti bahwa Ramadhan bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga tentang membangun semangat kolektif dalam memperkuat nilai-nilai keislaman di tengah kehidupan bermasyarakat.
Redaksi: ABK
………….























